Tomi Laksono

An Indonesian poet, playwright, author, alpinist and a liar. Born Priyo Utomo Laksono 29th December 1985
in Darjeeling, West Bengal, India.

Feb 15

Bob Dylan atau Agama

“Bob Dylan itu seperti Iwan Fals saja. Bedanya Iwan mah orang Indonesia, Bob Dylan mah orang Yahudi “ kata pria paruh baya itu. Ada penekanan yang terdengar pahit pada kata terakhir. Pria itu, Pak Dendi, baru beberapa bulan menganut doktrin agama Islam radikal, setelah menghabiskan masa mudanya begitu akrab dengan musik rock. Kini ia anggap rock sebagai musik jahiliah, dan berusaha sekuat tenaga untuk mendengarkan musik religi yang disebut nasyid.

Ia yang hampir hafal lirik refrain ‘Like a Rolling Stone’ itu kini menganggap Bob Dylan sebagai bagian dari kaum iblisi yang kerjanya hanya menyakiti manusia lain; kaum Yahudi. Bagi penganut doktrin Islam yang membaca Qur’an dan Hadis secara harafiah belaka, seperti Pak Dendi, sudah mutlak bahwa segala malapetaka di muka bumi, termasuk ketertinggalan dunia Muslim, disebabkan secara sengaja oleh orang Yahudi. “Semua sudah tertulis di sana (Qur’an & Hadis) “ katanya, seolah Qur’an turun dalam ruang vakuum. Tanpa konteks. Tanpa sejarah. Tanpa kompleksitas budaya dan politik.

Tapi Pak Dendi masih belum sepenuhnya hijrah pada doktrin kaku itu.
Saat saya berkemah dengannya tak jauh dari puncak Gunung Masigit, sesuatu yang dihadirkan alam terbuka menekan keluar kejujuran dalam dirinya. Ia menjadi orang yang begitu kaya dengan humor,dan seolah lupa pada tabu-tabu doktrtinal. Kami rekan-rekan campingnya tak henti dibuatnya tertawa.

Ketika ia berhasil membuat api unggun, ia berteriak girang, “Api siap !!! kalau ada babi hutan sini saya bakar juga” dengan tawa keras, menghangatkan malam yang dingin. Babi hutan haram dalam Islam, tapi ia kan hanya berkelakar spontan. Dikalangan jemaat barunya, bercanda selalu ada batasnya. Tapi malam itu ia bersama kami, teman-teman pendaki gunung, dan kita tidak punya konsep bercanda se-repot itu.

Malam itu ia juga bercerita tentang masa mudanya dengan bangga. Tentang apa yang akan ia lakukan bersama istrinya sepulangnya kerumah. Ia terdengar begitu terbebas. Kelak, ketika saya menemuinya disekitar teman-teman radikalnya, ia tampak lesu seperti binatang liar yang masuk kebun binatang. Tapi malam itu, ia bebas. Ia masih rajin sholat teratur, mengajak kami sholat, dan sebagainya. Meskipun demikian tidak ada yang menghalangi dirinya untuk berekspresi malam itu. Ia tampak identik dengan api unggun yang berderak, atau bulan yang meneriakkan cahaya keatas hutan.

Di depan api unggun saya menyanyikan lagu-lagu Dylan. Pak Dendi yang terbebas itu tidak menghiraukan tabu doktrinalnya dan ikut menyanyi beberapa lagu yang ia hafal. Kami berteriak bersama ’How does it feeeeel ?!’. Kami melantun ’Blowin in The Wind’ bersama. Itu lagu-lagu paling standar dari Dylan.
Malam itu, sang pria tidak ambil pusing bahwa Bob Dylan seorang Yahudi. Yang ia tau hanya Dylan pencipta lagu-lagu yang bagus.

Pak Dendi tidak hafal ketika saya mulai bernyanyi lagu-lagu Dylan yang bukan andalan. Saya hanya sendirian, membuat teman-teman saya kebisingan, ketika saya menyanyikan ’Never Say Goodbye’, dari album Dylan yang kurang legendaris, Planet Waves.

***

Because my dreams are made 
Of iron and steel
With a big boquet of roses hanging down
From the heavens to the ground.

(Karena mimpi-mimpiku terbuat 
dari besi dan baja
dengan rangkaian ros tergantung
dari langit sampai bumi) 

The crashing waves roll over me 
As I stand upon the sand
And wait for you to come 
Grab hold of my hand.


(Ombak berdebur menggulungku
Saat ku berdiri di pasir
Dan menunggumu datang
Menggenggam tanganku)

Never Say Goodbye 
- Bob Dylan


***

Bagi saya dua bait ini indah sekali. Karena dua bait inilah, enam tahun yang lalu, saya mencoba menulis puisi. Saat itu saya kelas 2 SMA dan untuk pertama kalinya saya jatuh cinta secara penuh kepada seorang gadis. Tidak seperti cinta-cinta saya sebelumnya, kali itu bukan hanya tentang wajah manis atau sifat yang menggemaskan, tapi sebuah cinta lawan jenis yang berfungsi penuh. Jiwa saya seperti termutilasi oleh bibir indah, rambut hitam panjang tergerai, leher yang rentang, punggung dan bahu yang tegak, pinggang yang berbentuk. Juga suaranya yang lembut. Ia bernama Ana. Ia seperti arang panas yang tak bisa dikeluarkan dari balik tubuh saya.

Tapi agama melarang cinta semacam itu. Atau setidaknya begitulah menurut teman-teman maupun senior saya di perkumpulan pemuda masjid SMA. Apalagi saya dipilih menjadi ketua pada periode itu. Salah satu kampanye yang diusung oleh para senior perkumpulan itu adalah dilarang pacaran. 

Entah kenapa, meski saya tidak pernah pacaran, saya tidak pernah setuju dengan larangan semacam itu. Ketika ada anak laki dan perempuan berduaan (belum tentu mereka pacaran) di teras masjid saya biarkan saja. Hari berikutnya para anggota perempuan perkumpulan masjid itu mendakwa saya.

Ketika seorang anggota berpacaran, saya juga tidak mempermasalahkannya. Tapi junior dan senior saya menganggapnya seperti sebuah kejahatan paling hina. Mereka lalu menghakimi anggota itu, sampai ia tak tertarik lagi mengurusi masjid. Pacarnya juga ikut di hakimi sampai ia menangis dan untuk seterusnya saya jarang sekali melihatnya berkunjung ke masjid. Saya juga dianggap nista karena tidak berbuat apa-apa pada mereka. Saya semakin jengah di dunia itu. Juga karena Ana, dengan segala kemustahilan untuk meraihnya, semakin membakar saya. 

Seorang manusia perlu menegak nada-nada yang mengenali luka jiwanya. Bagi saya mendengarkan musik Nasyid, musik ’nasional’ anak-anak pengurus masjid, malah mengingatkan saya pada larangan, kekangan, dakwaan dan penghakiman. Mengingatkan saya akan tirani.

Disitulah, sepertinya, Dylan masuk ke kepala saya.

Bermula dari kaset The Best of Bob Dylan saya kemudian mengejar semua album awal Dylan. Suaranya, intonasinya, jenis musiknya, juga tampangnya, di kepala saya terpilin dengan ide tentang kebebasan. Dan juga keindahan. Saya semakin menyerap lirik-liriknya dan untuk pertamakalinya saya tertarik pada puisi.

Saya lupa tepatnya seperti apa, tapi saya ingat betul saya menulis puisi yang merupakan saduran dari dua bait lirik Never Say Goodbye. ”Dari mana kamu dapat kata-katanya sih ?” kata Ana waktu saya beri secarik puisi itu. Entah saya menjawabnya atau tidak, yang saya ingat hanya mahluk indah itu tersipu, dan tangan saya bergetar. Suara tawanya indah sekali. Ia menyibakkan rambutnya yang tebal dan panjang itu sementara arang dibalik tubuh saya semakin menyala. 

Rambut menakjubkan yang takkan boleh saya lihat lagi sekarang karena ia sudah memakai jilbab. 

Beberapa tahun setelah lulus SMA ia bergabung dengan perkumpulan Islam yang harafiah pula. Katanya Ia sudah bertunangan, barangkali dengan sesama jemaat itu.

**

Bob Dylan memang etnis Yahudi, tapi ia tidak selalu beragama Yahudi. Pada akhir dekade 70’an ia memeluk agama Kristen dengan ketaatan yang heboh. Ia mulai menganggap musik-musik yang ia ciptakan seelum itu sebagai musik bodoh. Alias Jahiliah dalam terminologi Islam. Ia yang dikenal sebagai legenda musik rock karena membuka keran eksplorasi lirik dan tema menjadi begitu kaya, saat itu terreduksi hanya menjadi pembuat lirik puji-pujian pada Tuhan. Isinya dakwah, pujian, ajakkan, suruhan, larangan, ancaman. Ia menjadi giat membela Tuhan dan membenci musuh Tuhan. Jadi tampaknya Kristen, Yudaisme dan Islam, tiga agama ini memiliki potensi despotik yang sama. Penuh larangan, ancaman, dan kebencian.


Tapi pada dekade 80an ke ‘saleh’ an Dylan mengendur kembali. Entah kembali pada agama Yahudi atau tetap Kristen. Atau tidak keduanya. Yang jelas ia masih mereferensikan Tuhan di sebuah interview. Ia mereferensikan Tuhan secara elegan, tidak norak seperti pendeta minggu atau khatib Jum’at. Seorang pewawancara mengajukan pertanyaan metaforis tentang apakah ia menjual jiwanya pada Iblis untuk kejeniusannya menulis lagu. Ia menjawab ’Saya menjual jiwa saya pada Sang Pencipta’.

Seorang penulis lagu luar biasa lainnya adalah Cat Stevens. Di puncak kariernya ia tiba-tiba memeluk Islam dan untuk sekian lama ia tidak mau membawakan atau menulis lagu kecuali untuk puji-pujian. Diluar itu ia anggap jahiliyah. Iblisi. Untuk sekian lama, sia-sialah suara indahnya yang berat dan bakatnya mencari tema lirik yang indah dan penuh makna. Ia ubah namanya menjadi Yusuf Islam. Tapi untunglah akhir-akhir ini ia kembali menulis lagu dan membawakannya. Ia bahkan bersedia menyanyikan sebagian lagu-lagu ’jahiliyah’nya yang dianggapnya tidak terlalu jauh menyimpang dari norma agama. Ribuan pendengarnya begitu bersyukur mereka dapat mendengar suara indahnya lagi.

**

Di hutan gunung tempat kami camping malam itu sangat indah. Bulan, meski tidak purnama, cukup dermawan dengan sinarnya karena hujan batal datang. Suara angin dan keheningan. Udara yang begitu bersih. Begitu damai rasanya. 

Sementara yang lain memasak atau mengurusi ransel, di depan api unggun saya dan Pak Dendi menyanyi lagu Love Story. Love Story adalah soundtrrack dari film dan buku karangan Erich Segal, seorang Yahudi pula. Bahkan putra dari seorang pendeta Yahudi (rabi). Tapi pak Dendi lagi-lagi tak ingin peduli malam itu. Tampaknya ia malah punya sejarah pribadi dengan lagu ini dan terbawa emosi hingga bernyanyi amat sangat keras. Persetan, kami kan sedang di tengah hutan. Anggap saja kami anjing hutan yang melolong spontan karena keindahan bulan. Ya, seperti ajag yang melolong, burung yang bercicit, serangga yang berbunyi. Spontanitas terhadap keindahan alam. Seperti halnya jatuh cinta. 

Pak Dendi harus berekspresi sepuasnya malam itu karena seturunnya kami dari gunung hal-hal macam itu akan di larang oleh orang-orang ’saleh’. Karena jika melanggar tabu ia akan diancam dengan hukuman. Karena lagu-lagu dan ekspresi seni semacam itu adalah produk Yahudi kafir yang harus di benci.

Entah berapa lama Pak Dendi akan kuat dalam komunitas barunya. Saya pribadi tidak mampu merasakkan Tuhan dalam tumpukkan larangan, ancaman, dan kebencian seperti itu. Saya merasakan Tuhan pada hal-hal indah seperti hutan, gunung, bulan, musik, kecantikan Ana, atau lirik-lirik Dylan.