Tomi Laksono

An Indonesian poet, playwright, author, alpinist and a liar. Born Priyo Utomo Laksono 29th December 1985
in Darjeeling, West Bengal, India.

Feb 23

The Godfather is a Love Story !

Seorang teman pernah bilang bahwa anda belum menjadi lelaki sungguhan sebelum anda menonton (dan menyukai) trilogi The Godfather. Bukan hanya dia yang berpendapat seperti itu. Trilogi karya Francis Ford Copolla yang paling mahsyur ini (terutama yang pertama dan kedua) telah menjadi film legendaris yang dihubungkan dengan machismo. Mungkin karena film itu memuat banyak adegan pembunuhan dan pria-pria berkuasa dengan jas mahal dan rambut kelimis. Sebuah film yang, sepintas, sangat maskulin.

Tapi The Godfather bukan Apocalypse Now - film Copolla lainnya yang memang penuh dengan agresi dan minim perasaan. Ini juga bukan Goodfellas atau Casino, film-film mafia yang menggaris bawahi keserakahan dan ambisi. Tapi The Godfather pada tema paling dasarnya adalah feminin. The Godfather adalah kisah cinta. Tidak kalah pekat dari Doctor Zhivago atau malah Love Story.

Banyak orang menganggap Godfather bagian ketiga tidak sebagus dua prequelnya. Tapi suka tidak suka film ketiga itu menyajikan semacam kesimpulan bagi semua cerita Godfather; Adalah adegan ketika Michael Corleone menjerit histeris setelah anak perempuannya, Mary, mati tertembak.

Tokoh-tokoh lain yang menyaksikannya tampak kaget melihat Michael menjerit. Terutama Kay - mantan istri Michael dan ibu dari Mary - yang sebelumnya juga histeris, saat itu terhenti sejenak karena kaget melihat Michael yang selama ini ia anggap begitu dingin dan tega seolah hancur lebur dalam kesedihan. Lalu, diiringi musik opera yang mengiris, adegan itu diisi kilasan balik adegan-adegan ketika Michael dansa bertama semua perempuan objek cintanya; putrinya Mary, istri pertamanya Appolonia, dan Kay.

Betapa kehidupan yang ia jalani telah merenggut cinta-cinta terbesarnya darinya. Sebuah kehidupan yang, ironisnya, hanya ia masuki karena alasan cinta.

Part 1 : Menjadi ‘Iblis’ tanpa sengaja.

Michael berniat tidak akan memasuki dunia Mafia ayahnya, Vito Corleone. Ia menegaskan pada Kay ketika mereka berpacaran bahwa ia tidak akan menjadi seperti ayahnya. Namun, ketika ayahnya ditembak oleh kaki-tangan keluarga mafia lain, Michael tergerak untuk segera mengamankan ayahnya dengan membunuh dalang penyerangan itu. Penyerangan itu merupakan bagian dari skema besar keluarga mafia lain untuk menyingkirkan keluarga Corleone. Sementara Michael diamankan di Sicilia dan menikah dengan gadis Sicilia bernama Apollonia, kakak tertuanya, Santino, terbunuh. Michael sendiri pun menjadi sasaran pembunuhan, namun tragisnya justru Apollonia lah yang menjadi korban.

Ketika ia pulang ke New York, keluarga Corleone masih terancam. Santino telah tewas.  Freddo, putra ke dua Vito, memiliki karakter yang lemah. Sementara Vito sendiri sudah terlalu tua. Maka demi keluarganya, Michael justru menggantikan posisi ayahnya menjadi The Godfather, kepala keluarga Corleone. Ia lalu mengunjungi kembali dan kemudian menikahi Kay, dengan janji bahwa dalam beberapa tahun saja bisnis keluarga Corleone akan ia jadikan legal. Sementara itu di bawah kepemimpinannya keluarga Corleone membabat habis keluarga-keluarga mafia New York lain yang bersekongkol melawannya. Di bawah kepemimpinannya keluarga Corleone mendominasi lagi dan Michael, putra bungsu Vito yang pernah berjanji tidak akan memasuki dunia mafia, menjadi gembong mafia yang sangat ditakuti.

Singgasana yang diincar seluruh mafia ia dapatkan bukan dari dorongan ambisi, tapi pada awalnya afeksi. Dari cintanya kepada keluarganya.

Part 2 : Mempertahankan dengan Takut apa yang telah dibangun dengan Cinta


Godfather bagian kedua bercerita separuh tentang bagaimana Michael mempertahankan keluarga Corleone, sementara paruh lainnya adalah kilas balik tentang bagaimana Vito Corleone membangun keluarga Corleone dengan cinta dan kepedulian pada orang disekitarnya.

Keluarga Corleone yang telah berpindah ke Lake Tahoe, Nevada, mendapat serangan. Michael dan keluarganya hampir terbunuh. Sekali lagi demi keluarganya, ia berniat menumpas habis mereka yang merencanakan serangan itu. Adalah Hyman Roth, seorang gembong Yahudi yang memiliki kekuasaan di Cuba, yang hendak menyingkirkannya. Pada permukaan Roth bersikap seolah justru ia ingin Michael menjadi penerusnya.Tapi Michael mengetahui niat buruk Roth.

Michael menemukan bahwa ternyata adalah Freddo yang tanpa ia sendiri sadari telah banyak memberi informasi pada kaki-tangan Roth sehingga serangan di Lake Tahoe dimungkinkan. Michael sangat marah. Di sisi lain, Kay yang sudah demikian tertekan rasa takut baik kepada Michael maupun pada dunia hitam mafia memutuskan untuk mengaborsi bayi yang sedang di kandungnya dan berniat meninggalkan Michael.

Film ini berakhir tidak hanya dengan pembunuhan Hyman Roth, tapi juga pembunuhan Freddo atas perintah Michael, suatu keputusan yang akan menghantuinya sepanjang hidupnya. Dan akhirnya perpisahanya yang pedih dengan Kay. Sebuah ironi : keluarga Corleone terselamatkan dengan harga kehancuran keluarga intinya sendiri.

Kisah ini diselingi di sana-sini oleh kilas balik kisah Vito, tentang bagaimana ia kabur dari Sisilia setelah keluarganya dibunuh. Ia menikah muda dan hidup sederhana sebagai pelayan toko. Meski hidup begitu sederhana keluarga mungil itu bahagia dan penuh syukur. Kehidupannya berubah setelah bertemu dengan tetangganya, Clemenza, seorang maling yang sangat baik kepadanya, dan juga ketika ia bertemu The Black Hand, preman lokal wilayah imigran Itali. Atasan Vito terpaksa memecatnya karena keponakan The Black Hand memaksa kerja di tokonya. Dalam kesulitan keuangan itu ia terpaksa ikut Clemenza menjadi maling. Tapi lagi-lagi The Black Hand mengganggu dengan memajak hasil curiannya. Vito memutuskan bahwa preman itu sudah sangat meresahkan banyak orang dan ia membunuhnya. Dengan demikian banyak penduduk berterimakasih padanya. Sejak itu ia mendirikan perusahaan minyak zaitun yang sebenarnya kedok bagi bisnis proteksinya. Vito pun mengunjungi Sicilia dan membunuh pembunuh ayah-ibunya.

Yang menarik adalah bahwa Vito Corleone bersama teman-temannya adalah seorang pereman. Namun, spirit mereka (terutama Vito) bukanlah ambisi dan agresi. Ia menganggap dirinya melindungi orang meski diluar jalur hukum. Ia menanamkan balas budi dan penghormatan kepada klien-klien nya, bukan rasa takut seperti preman kebanyakan.

Disini pula kontras keluarga Corleone pada masa Vito dan Michael. Vito membangun dengan membuat orang menghormati dan mencintainya, sedangkan Michael mempertahankan dengan membuat musuh-musuhnya, dan bahkan keluarganya, takut. Sebuah pola yang sangat Machiavellian.

Part 3 : Tragedi terakhir


Adalah anak haram Santino Corleone, Vincent, satu-satunya generasi ketiga Corleone yang mewarisi ketegasan dan karisma Vito. Kedua anak Michael sengaja dijauhkan dari dunia ayahnya; Anthony menjadi seorang seniman, dan Mary menjalankan yayasan yang didirikan ayahnya. Michael memang sudah bertekad memasuki bisnis legal. Upaya terbesarnya adalah berusaha membeli perusahaan Vatican, Immobiliare.

Namun, niat baik Michael harus menghadapi pejabat Italia dan Vatican yang korup, yang berusaha menghalanginya membeli Immobiliare. Para pejabat ini pun bekerja sama dengan Don Altobello, yang terus berpura-pura ia adalah teman keluarga Corleone. Michael sempat nyaris terbunuh oleh Joey Zasa, seorang mafia muda yang sedang naik daun dan diam-diam didukung oleh Don Altobello. Tapi Michael dilindungi Vincent dan kemudian Vincent membalas dengan membunuh Zasa.

Michael menjadikan Vincent sebagai tangan kanannya. Karena itu ia resah mengetahui bahwa Vincent menjalin cinta dengan putrinya, Mary. Selain karena memang mereka sepupu, posisi Vincent yang adalah tangan kanan Michael di dunia hitam akan membahayakan Mary.

Michael dan seluruh keluarga Corleone mengunjungi Socilia untuk menonton pertunjukkan opera Anthony. Begitupula Kay, yang telah menkiah dengan orang lain. Di Sicilia, Michael mengajak Kay mengunjungi Corleone. Mereka berbincang dan Michael menjelaskan bahwa yang ia lakukan segalanya adalah untuk keluarganya, orang-orang yang dicintainya.

Sesaat sebelum pertunjukkan opera, Michael menyerahkan kekuasaan pada Vincent untuk menjadi Don Corleone berikutnya. Don Altobello sudah terlanjur memerintahkan pembunuhan Michael Corleone saat pertunjukkan opera. Michael gagal dibunuh saat opera, dan justru Altobello yang mati diracun oleh Connie Corleone, adik perempuan Michael.

Di tangga keluar dari gedung teater, pembunuh bayaran Altobello berniat menembak Michael. Namun, saat itu Mary sedang menghadapi Michael dan menyalahkannya karena membuat Vincent meninggalkannya. Michael tertembak peluru tembusan, sedangkan tubuh yang tembus terkena justru Mary.

***

Keluarga Corleone tidak pernah ditampilkan sebagai keluarga yang ambisius. Berdarah panas, mungkin, seperti Santino dan Vincent. Tapi tidak seperti musuh-musuh mereka yang dengan sengaja dan tanpa sebab menginginkan kejatuhan orang lain. The Turk, Don Barzini, Moe Greene, Hyman Roth, Joey Zasa, musuh-musuh Corleone ini lah yang agresif. Keluarga Corleone, khususnya Vito dan Michael, agresive hanya dalam insting yang berakar dari cinta yang mendalam kepada keluarga dan yang mereka anggap sebagai keluarga. Baik Vito maupun Michael adalah suami yang setia dan ayah yang penuh kasih sayang. Memang ekspresi cinta Vito lebih hangat ketimbang Michael dan barangkali ini yang membuat kisah Michael menjadi tragedi. Tragedi Michael Corleone adalah bahwa refleks yang ia punya terhadap rangsangan cinta ternyata justru membunuh mereka yang ia cintai.

Karena itu bagi saya film ini memuat tema cinta yang tak kalah pekat bahkan dari Love Story sekalipun. Memang cinta dapat mengantar manusia pada tempat-tempat menakjubkan. Tapi ia juga dapat mengantar kita pada tempat-tempat mengerikan. Karena tidak semua manusia menanggapi cinta dengan cara yang sama.